DAPATKAH KAU RASA

apa yang ku tulis adalah rasaku
yang ku tuang dengan segenap hatiku
jangan kau baca dengan mata
namun bacalah dengan jiwa
aku berharap engkau mengerti rasaku

pergilah bila kau ingin...


Kamis, 25 Maret 2010

perih


kini ku tiada arti lagi
terserpih diantara batu-batu kali
tinggalkan perih tak terperi

ku tak kuasa
ingin ku hapus bayangmu sekejap saja
namun jiwa terpaut rasa

pelarian ini tak berarti
bayangmu terpatri dlm hati
tak mampu ku cabut lagi

ingin ku menjerit
namun bibir terkatup rapat

ingin ku berlari
namun lunglai langkah diri

aku terpuruk...
aku terpuruk...
aku terpuruk...

tanpa engkau tahu akan rasaku....

Senin, 15 Maret 2010

aku setitik debu


Ada pedih yang tak mampu ku gambarkan
dengan kata ataupun cerita

Ada luka yang tak mampu ku sampaikan
dengan lisan ataupun tulisan

Biarkan menggenang di sini
di dalam dada ini

Biarkan berkerak di sini
di dalam batin ini

yang sering tergugu di malam bisu
yang sering tersedu di sudut beku

Aku sebutir debu
yang sirna tertiup waktu

tanpa sisa
tanpa bekas

tak setitikpun
yang tertinggal

Rabu, 10 Maret 2010

lanjutan akhir sebuah kisah 3


Adit menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kedua lengannya dia gunakan sebagai bantalan kepala. Malam kian dingin. Tiba-tiba terlintas bayangan wajah Nita. Entah mengapa bayangan wajah Nita tiba-tiba muncul di benak Adit. Wajah yang lembut, namun terbersit bayangan kepedihan di matanya. bulir crystal yang mengalir, juga isak Nita saat Adit memetik gitar. Ada rapuh yang terpancar di mata Nita. Ada kelelahan yang coba dia sembunyikan di sana. Adit menghela nafas.
“ Jangan kabarkan kepedihanmu Nita…hati ini masih basah dengan luka…ku belum mampu menopang rapuhmu….” Gumam Adit.

Mau tak mau bayangan masa lalu itu kembali menari di benak Adit.
“ Irma. “
Sebuah nama yang begitu dalam merasuk dalam jiwa Adit. Sebuah nama yang begitu indah. Tapi juga sangat menyakitkan. Sebuah nama yang mewakili kecantikan seorang gadis yang telah mengisi seluruh hari-harinya. Yang telah menghabiskan seluruh hati dan jiwanya. Dan meninggalkan sebuah kehampaan yang sangat panjang.

Senin, 08 Maret 2010

lanjutan akhir sebuah kisah 2


Nita tersenyum simpul.
Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh pundak Nita.
“ Hhhmmm….nampaknya sedang bahagia.”
Terdengar sebuah sapaan lembut di telinga Nita.
Nita terkejut dan menoleh.
“ Adit...”Gumam Nita.
Adit melempar senyum pada Nita dan melepaskan sentuhan di pundak Nita.
Nita bangkit dari duduknya.
“ Maaf mengejutkanmu.” Kata Adit.
“ Oh, ga apa-apa kok. “ jawab Nita.
“ Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Adit sambil melangkah.
Nita hanya tersenyum sambil menjajari langkah Adit.

Mereka berjalan beriring menuju bangku kayu tempat dimana kemaren Adit bermain gitar. Mereka melangkah tanpa sepatah katapun. Sepertinya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Adit duduk dan mulai memetik gitarnya. Denting kepiluan itu mulai mengalun kembali. Nita duduk terpekur di samping Adit. Sebutir crystal bening bergulir di pipinya. Nada-nada yang mengalir dari dawai gitar Adit laksana berjuta belati mengoyak-ngoyak hatinya. Adit terus memainkan iramanya dengan nada kian memilukan. Tak kuasa tanpa sadar akhirnya Nita terisak. Adit yang tak menyadari kesedihan Nita tersentak mendengar isak Nita. Adit serta merta menghentikan petikan gitarnya. Adit tertegun. Nita terkejut saat menyadari Adit telah menghentikan petikan gitarnya. Nita tersipu malu sambil menyeka airmatanya.

Adit menyentuh lembut pundak Nita sambil tersenyum. Tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Pagi ini hanya mata mereka yang saling bicara. Masing-masing menterjemahkan keadaan alam dan alunan gitar dengan cerita masing-masing.

Jumat, 05 Maret 2010

kepak terakhir



ku kepak sayap yang t'lah patah


terbang keatas pelangi terindah



menggapai bahagiaku bersamamu
'tuk yang terakhir kali

walau hati bersimbah darah
dalam rintih kepedihanku
" aku bahagia "

" MISS YOU HONEY.... "
" LET ME GO FOR YOUR HAPPINESS "

Rabu, 24 Februari 2010

lanjutan akhir sebuah kisah (1)


Nita melangkah perlahan sambil menikmati keindahan pagi.
“ Hhhmmm…tak terdengar petikan gitar…” gumam Nita perlahan.
Entah karena apa Nita merindukan irama sendu itu. Hati Nita seperti terbawa arus permainan gitar Adit.

Nita melewati bangku kayu tempat kemarin Adit bermain gitar. Tapi tak tampak kehadiran Adit. Nita menghela nafas dan melanjutkan langkah kakinya menyusuri tepian sungai. Tiba di hulu sungai terdapat air terjun yang sangat indah. Nita duduk ditepi sungai. Menjuntaikan kakinya kedalam air sungai yang jernih dan dingin. Suara gemuruh air terjun dan gemericik air sungai yang menghempas bebatuan, mengantarkan pikiran Nita pada masa lalu. Saat dimana dia dan Iwan sering menghabiskan pagi dan sore hari di tepian sungai seperti ini.

Nita tersenyum. Nampak di pelupuk matanya bayangan Iwan menggenggam tangannya dengan lembut. Berjalan melintasi rumput basah di taman di sepanjang tepian sungai. Aroma rumput basah sisa embun pagi mengelus penciuman Nita. Embun pagi diatas bunga berkilau keemasan tertimpa sinar mentari pagi. Sepasang kupu-kupu biru terbang berkejaran diatas sekuntum mawar kuning. Nita mulai merengek. Meminta Iwan menangkap kupu-kupu yang indah itu. Iwan dengan sabar mengelus rambut Nita.
“Jangan ganggu mereka sayang…biarkan mereka menikmati kebahagiaannya…kita lihat dari jauh aja ya…?” ucap Iwan dengan lembut.
Nita merajuk. Merengek manja dan memukul-mukul dada Iwan. Iwan mencubit ujung hidung Nita dengan lembut. Lalu berlari meninggalkan Nita. Nita menjerit manja dan berlari mengejar Iwan. Mereka bercanda dan berkejaran sepanjang pagi. Tiba-tiba Nita terjatuh. Lututnya terluka. Nita menangis manja dalam pelukan Iwan. Iwan membelai rambut Nita dengan penuh kasih sayang.
“ Udah sayang…ayo, diobatin dulu.” Ucap Iwan lembut di telinga Nita.
“ Sakiiiittttt…..” rengek Nita manja.
“ Iya…makanya ayo cepet di obatin dulu…” Ucap Iwan sambil menghapus airmata yang bergulir di pipi Nita.

Nita menghentikan rengekannya. Dan Iwan dengan segera membersihkan luka kecil di lutut Nita.

Jumat, 23 Oktober 2009

akhir sebuah kisah


Mentari tersenyum malu-malu di ufuk timur. Semburatkan sinar keemasan memandikan bumi dengan kehangatannya. Burung-burung berkicauan riang. Saling bersahutan bercanda ria berlompatan dari ranting ke ranting. Gemericik air sungai yang menyentuh tepi-tepi bebatuan melantunkan kidung asmara pagi. Kilau embun di atas rerumputan yang menghampar hijau sepanjang tepian sungai bak permata yang tersebar di atas permadani. Bunga-bunga beraneka warna berayun menari bersama kupu-kupu biru yang berterbangan di sekelilingnya. Kesempurnaan alam yang tiada terkira.

Nita tersenyum menyaksikan keajaiban Tuhan yang terpampang di hadapannya. Dengan senyum tetap mengembang Nita melangkahkan kaki menyusuri tepian sungai. Langkah kakinya meninggalkan jejak di sepanjang rerumputan. Tiba-tiba langkah nita terhenti. Terdengar sayu-sayup suara petikan denting gitar. Sebuah lagu yang sangat menyentuh hati mengalun tanpa lirik. Iramanya mendayu menyayat hati. Nita melangkah perlahan mendekati asal suara petikan gitar itu. Tak jauh dari tepian sungai diujung sebelah utara, ada sebuah bangku kayu yang terletak di bawah pohon rindang. Seorang laki-laki dengan tampang kusut sedang memetik gitar dengan tatapan kosong. Walaupun tak bisa disembunyikan gurat-gurat ketampanan di wajahnya, namun garis-garis kepedihanpun tak mampu pula disembunyikannya.

Nita melangkahkan kaki dengan penuh keraguan. Mendekati bangku kayu itu. Namun Nita tak berani untuk menegur ataupun menatap laki-laki itu. Nita terus melangkah melewati laki-laki itu sambil menunduk dan tanpa sepatah katapun. Nita melangkah dengan sangat hati-hati. Beberapa langkah setelah ita melewati bangku itu, suara petikan gitar itu terhenti. Nita tetap meneruskan lngkahnya.
“ Hai…..” terdengar sebuah sapaan yang halus mengelus telinga Nita.
Nita menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nita membalas anggukan itu. Keceriaan Nita tadi pagi sepertinya sirna sudah di telan irama denting gitar yang telah menusuk hatinya. Nita merasakan kepiluan yang tiada tara.

Laki-laki itu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Nita. Nita masih mampu menangkap kegetiran dimata laki-laki itu. Walaupun laki-laki itu telah berusaha menyembunyikan dengan senyumannya.
“ Adit….” Ucap laki-laki itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.
“ Nita… “ Jawab nita sambil balas menjabat tangan Adit.
“ Kamu orang baru di sini…?” tanya Adit pada Nita.
“ Ya. Aku sedang berkunjung ke rumah family. Kebetulan jalan-jalan dan menemukan tempat yang sangat memukau ini.” Ucap Nita dengan mata berbinar. Nita tak mampu menyembunyikan kekagumannya pada tempat itu.
“ Ya. Tempat ini memang sangat indah. Namun juga sangat menyakitkan.” Ucap Adit sambil menghela nafas panjang dan mata menerawang.
Nita mengernyitkan kening mendengar desah Adit. Tapi Nita tak berani bertanya lebih banyak lagi. Adit kembali duduk di bangku kayu itu.
“ Nit, makasih ya. Dah mau nemenin aku ngobrol. “ ucap Adit pada Nita.
“ Ya. Sama-sama. Makasih juga ya, dah mau kenalan ma Nita.” Balas Nita.

Senja tiba malam menjelang. Entah apa gerangan yang membuat hati Nita terus memikirkan Adit. Goresan luka di mata Adit, pedihnya senyuman Adit, dan nestapa yang mengalun dari petikan gitar Adit telah mengoyak hati Nita. Nita teringat pada Iwan. Kekasihnya waktu SMA. Nita tahu. Adit pastilah masih sangat belia. Kemungkinan besar masih duduk di bangku SMU. Nita sedang berpikir apa yang sesungguhnya terjadi pada Adit. Nita tahu. Pasti tak jauh dari urusan percintaan.hhhmmm….itulah makanan ringan anak-anak remaja zaman sekarang.

Nita jadi teringat Iwan. Seorang kekasih yang tak kan pernah mampu dilupakannya. Nita menjalani masa pacaran dengan Iwan sejak kelas satu SMU. Bermula dari pertemuan di sebuah pentas musik keroncong. Iwan yang sangat piawai dalam memainkan semua jenis alat musik tertarik pada Nita. Satu-satunya penyanyi termuda di club keroncong itu. Dan Iwan sebenarnya hanyalah bintang tamu di club itu. Masa-masa manis terjalin dengan sangat indahnya. Kebetulan Nita seorang anak yatim. Begitu pula Iwan. Namun sifat mereka sangatlah jauh berbeda. Nita sangat manja. Sementara Iwan sangatlah dewasa sekali. Walaupun usia Nita dan Iwan hanya terpaut 2 tahun saja.

Waktu terus berjalan. Tahun demi tahun tak terasa 3 tahun sudah masa pacaran mereka. Tiba saatnya hari kelulusan. Iwan dan Nita merencanakan untuk melangsungkan pertunangan setelah kelulusan mereka. Itu karena orang tua Nita maupun Iwan sudah sangat setuju dengan hubungan mereka. Malah keluarga mereka sudah sangat dekat. Kebahagiaan makin membuncah di hati mereka. Tiada seharipun tanpa kebersamaan mereka. Tapi tak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi pada hidup ini. Kakak Nita menentang pertunangan mereka. Kakak Nita menginginkan Nita untuk ke Jakarta dan mengejar cita-citanya terlebih dahulu. Iwan dan Nita sebenarnya sudah sepakat untuk melangsungkan pertunangan setelah kelulusan, tapi akan menikah 5 tahun kemudian. Tapi kakak Nita tak mau menerima penjelasan mereka. Nita dipaksa pergi ke Jakarta tanpa boleh pamit pada Iwan.

Bertahun-tahun Nita dan Iwan hidup tersiksa. Nita selalu mengirim surat pada Iwan. Sesungguhnya Iwan pun selalu membalas surat Nita. Tapi kakak Nita tak pernah menyampaikan surat itu pada Nita. Nita dan Iwan sering berkomunikasi melalui telepati. sesuatu hal yang mungkin dianggap tidak mungkin bagi orang lain. Tapi karena keterikatan batin yang kuat diantara mereka, maka merekapun akhirnya tetap dapat berkomunikasi. Hingga di suatu senja Nita menerima sepucuk surat dari Iwan yang telah dibuka oleh kakak Nita. Isi surat itu sangat mengejutkan hati Nita. Iwan meminta Nita untuk melupakannya demi kebahagiaan Nita. Iwan tak ingin melihat Nita tersiksa karena cinta mereka. Nita menangis tersedu. Tak sepatah katapun dapat terucap.

Dengan tanpa pamit pada kakaknya, Nita pulang ke kampung halamannya berniat untuk menemui Iwan. Di dalam perjalanan Nita bertemu dengan bu Atun. Guru sekaligus temen Nita di club keroncong.
“ Nita..kok baru pulang sekarang..?” sapa bu Atun
“ Ada apa bu..?” tanya Nita terkejut.
“ Loh, Iwan menikahnya minggu kemaren. Kok kamu baru pulang sekarang..?”
Mendengar ucapan bu Tun, Nita bagai tersambar petir.
“ Bu…?” Nita tak sanggup berucap. Bu Tun menyadari kekeliruan ucapannya.
“ Nita, apa kamu ga dikasih kabar?” tanya bu Tun.
“ Tidak bu. Pantas saja saya ingin pulang dan ga bisa ditahan lagi.” Rintih Nita.
Sesampainya di rumah, Nita memeluk ibunya sambil menangis. Ibunya Nita hanya dapat memeluk Nita dan mengusap-usap punggung Nita dengan penuh kasih. Ibunya Nita sangat mengerti perasaan Nita.

Nita kembali ke Jakarta hari itu juga. Ibunya tak dapat mencegah kepulangannya. Nita menjalani hari-harinya dengan penuh penderitaan. Nita tak mampu menghapuskan kepedihan sekaligus rasa cintanya pada Iwan.

Tahun demi tahun terus berlalu. Nita tak ingin ada seorangpun yang menggantikan Iwan di hatinya. Hingga suatu pagi telphone di rumah Nita berdering.
“ Selamat pagi, bisa bicara dengan mba Nita..?” terdengar suara merdu di ujung telphone.
“ Ya, saya sendiri. Maaf dari mana ya?” sahut Nita dengan nada sedikit bingung.
“ Mba Nita, aku Asti. !!!“Jerit suara di ujung telphone.
“ Asti..!!” pekik Nita.
Asti adalah adik Iwan yang paling kecil. Asti sangat menyayangi Nita. Begitu pula sebaliknya. Kemanapun Nita pergi pasti mengajak Asti.
“ Mas Iwan mba…!!!” isak Asti seperti lolongan halilintar di telinga Asti.
“ Kenapa mas Iwan As..?” perasaan Nita menggelegak tak terbendung.
“ Mas Iwan meninggal karena kecelakaan seminggu yang lalu. Tapi Asti belum sanggup kasih kabar ke mba Nita.” Isak Asti makin keras.
Nita terhenyak. Tak sepatah katapun yang terucap. Nita terisak penuh kepedihan. Sementara Asti terus bercerita sambil menangis di ujung telphone. Iwan menikah ternyata hanya karena sebuah perjanjian. Gadis yang dinikahi Iwan divonis mandul. Dan Iwan menikah dengan gadis itu semata-mata hanya karena ingin membahagiakan Nita. Namun Iwan tak pernah menyangka kalau ternyata Nita tak sanggup untuk melupakan Iwan, dan hidup Nita justru semakin menderita. Iwan merasa sangat bersalah. Iwan tak mungkin menceraikan istrinya untuk kembali pada Nita. Sementara Iwan juga tak sanggup melihat penderitaan Nita.

Menurut cerita Asti, sehari sebelum Iwan meninggal karena kecelakaan, Iwan mengajak Asti berkeliling kota. Ke tempat-tempat dimana biasa Iwan dan Nita pergi berdua. Iwan bercerita pada Asti semua kenangan manis bersama Nita. Malam itu Iwan mengendarai sepeda motor untuk pergi pamitan ke rumah kakeknya. Iwan ingin menyusul Nita ke Jakarta. Tapi Tuhan berkehendak lain. Iwan meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sampai detik ini Nita masih bertanya-tanya. Apakah Iwan meninggal murni karena kecelakaan, ataukah Iwan sengaja menabrakkan diri untuk mengakhiri hidupnya. Nita tahu Iwan sangat mencintainya. Seperti Nita juga begitu mencintai Iwan.

Pagi menjelang. Nita kembali berjalan menyusuri tepian sungai. Nita bermaksud berbagi cerita dengan Adit. Nita tak ingin melihat kepedihan di mata Adit lagi.