DAPATKAH KAU RASA

apa yang ku tulis adalah rasaku
yang ku tuang dengan segenap hatiku
jangan kau baca dengan mata
namun bacalah dengan jiwa
aku berharap engkau mengerti rasaku

pergilah bila kau ingin...


Senin, 09 Februari 2009

nasehatmu


Beberapa minggu terakhir ini
aku merasakan beban yang amat berat.
Aku sangat lelah.
Aku ingin ada seseorang yang dapat menghiburku,
menasehatiku, menggenggam tanganku,
dan mengatakan padaku kalau semua akan baik-baik saja.

Tapi aku lelah berharap.
Satu-satunya yang membuatku tetap bertahan
adalah nasehatmu.
Bahwa Tuhan selalu melihatku, mendengarku
dan selalu mengujiku.

Do’akan agar aku dapat melewati semua ujian ini
dengan senyum dan ketabahan.Amiin.

Kamis, 05 Februari 2009



Hari ini adalah hari kesekian kita terpisah.
Sayang,
tahukah kamu?
aku sangat merindukanmu.

Aku ingin melihat indahnya tatap matamu,
aku ingin melihat indahnya senyum dibibirmu
aku ingin mendengar merdunya candamu

Aku sering termenung dan berpikir
kira-kira bagaimana ya kabar kamu?
apa kamu baik-baik saja?
apakah kamu sedang bersedih,
atau sedang bahagia?

Sayang,
Sesungguhnya aku sangat merindukanmu.
Aku sering berharap,
kita duduk berdua di tepi sebuah danau biru,
atau ditepian pantai yang indah
bercerita tentang banyak hal
sambil memandang dua angsa putih
yang sedang memadu cinta

Setelah itu aku tersenyum sendiri.
Anganku terlalu tinggi.

Sayang,
Aku selalu berdo’a untuk kebahagiaanmu.

Rabu, 04 Februari 2009

disisi mawar yang mekar


Bunga mawar itu sangat indah,
Wanginya pun harum semerbak
Namun bila disisi bunga mawar
yang sedang mekar itu
tumbuh dua kuncup bunga yang lain,
akankah tetap indah?
bertambah indah?
ataukah akan mengganggu
bunga mawar yang sedang mekar?

Selasa, 03 Februari 2009

sebuah cerpen untuk kekasih



Sayang,
Semalam aku memimpikanmu
Kamu memintaku untuk datang
ke suatu tempat yang indah.
Saat aku kesana, kulihat kau sedang menungguku
di tepi sebuah danau yang begitu jernih.
Saat kuhampiri, kau menatapku penuh iba.
“Sudah sembuhkah?” Tanyamu.
Aku tersenyum.
“Seperti yang kau lihat.aku masih bisa kesini bukan?”
Kau termenung menatapku.”tapi mukamu pucat.”katamu.
“ Ya. Penyakit ini masih merongrong tubuhku.”
“Sakit apa kamu sebenarnya?”tanyamu sambil menggenggam jemariku.
“Tidak terlalu serius.hanya terasa sesak didadaku, dan sakit dikepalaku.”
“Lalu apa kata dokter?” tanyamu sambil menarikku duduk disampingmu.
“Sedikit depresi dan darah tinggi.tekanan darahku 180. Dan karena darah tinggi itu,
pembuluh darah dimata sebelah kananku ada yang pecah.tapi kata dokter gpp kok.”

Kamu terlihat sangat marah.
“ Sudah kukatakan padamu. Pergi dan lupakan aku.Dan jangan pernah lagi menangis untukku.” Kulihat bibirmu bergetar.

Aku tersenyum.Ku genggam erat jemarimu.Lalu kucium lembut ujung jari jemari itu.
“Aku akan pergi.Pergi jauh dan sangat jauh.Aku takkan pernah datang padamu lagi.
Tapi jangan pernah memintaku untuk melupakanmu.Kar’na aku takkan pernah sanggup untuk melakukan itu.”

Kamu semakin marah. Aku belum pernah melihatmu marah selama ini.Kamu adalah sosok yang sangat lembut dan sangat perasa.Tapi aku benar-benar melihatmu marah.
“Kamu tahu, aku tak pernah menginginkan semua itu.Bahkan aku tak pernah ingin mendengar kata-kata itu.”teriakmu semakin marah.matamu nanar menatapku penuh kebencian.

Aku menghela nafas dalam-dalam.Kulepaskan genggaman tanganmu.”Aku tahu.Dan aku sangat mengerti semua itu.Kamu punya hak untuk itu.Sama halnya aku juga punya hak untuk mengenangmu.Aku juga tak pernah meminta rasa itu datang.Aku juga tak pernah meminta untuk mencintaimu.Tapi Tuhan memberikan karunia itu padaku.Dan aku tak kuasa menolaknya.”

Aku berpaling dan melangkah meninggalkanmu.Aku ingin berlari.Namun kakiku sangat berat untuk kuayun.Aku terus tertatih meninggalkanmu.Dengan derai air mata yang tak lagi mampu ku bendung.Namun ku tak ingin lagi, kau melihat air mataku.

Dan saat kuterbangun mataku basah oleh air mata.

Senin, 02 Februari 2009

ku pergi membawa bayangmu




Ku bentang hatiku
Seluas kasih yang ku miliki
Kurajut benangnya helai demi helai
Kutautkan satu demi Satu
Lembar demi lembar kutata di kebisuan

Lengkap sudah permadani hatiku
Dengan bunga-bunga kecil bertaburan diatasnya
Mawar dan melati jadi padu padan
Yang indah antara cinta dan kesucian
Indahnya cinta yang penuh duri
Dan sucinya hati untuk berkorban

Namun kusadari
Bunga-bunga itu mulai mengering
Kelopaknya mulai menghitam
Lembar demi lembar dan kuntum demi kuntum
Akankah kubuang bunga-bunga kering itu?

TIDAK!!!

Kan kusimpan.
Kujadikan rangkaian bunga kering yang indah

Hari ini
Kupungut satu demi Satu kuntum-kuntum yang mengering itu
Kan kusematkan disetiap bait syairku
Kan kupersembahkan untukmu setiap hari

Aku tahu kau memandangku dari kejauhan
Aku tahu hatimu bersedih
Aku melihat sinar matamu penuh luka
Bukan kebencian

Aku mengerti duri –duri ini terlalu tajam
Aku mengerti kau tak ingin terluka
Dan tak ingin siapapun terluka

Aku pergi
Bukan karena aku ingin pergi
Tapi aku juga tak ingin siapapun terluka

Ku ingin kau tahu
Aku pergi membawa bayangmu
Bila kau ingin melihat bayangmu dalam pelukku,
Bacalah bait demi bait syairku
Karna bayangmu ada disana
Dan selalu akan ada disana

Di dalam syairku
Di dalam hatiku
Di dalam nafasku
Di tetesan air mataku

Dan di setiap aliran darahku.

Aku pergi sayang
Aku tahu kau melihatku
Aku pergi dengan derai air mata dan do’a
SEMOGA KAU BAHAGIA.




tak mampu kubaca




Kau datang tanpa kupinta
kau pergipun tanpa kata
tinggalkan makna yang tak mampu kubaca

Bentukmu tak mampu kuraba
antara ada dan tiada

Begitu indah kupandang
namun tak mampu kuraih
begitu jauh dan tinggi
hingga tak mampu ku selami

kucoba tumbuh




Selama ini aku begitu takut untuk sendiri
tapi aku lupa
bahwa aku terlahir serorang diri
dan suatu saat nanti aku pasti akan sendiri.

Di ujung hidupku
diawal nafasku, dan diakhir nafasku
aku pasti akan sendiri

Kini kucoba untuk tumbuh
diantara karang-karang tajam
di kesendirianku
dan dirapuhnya akar jiwaku.